S
|
iapa yang tak mengenal Bali? Bahkan
seluruh dunia rasanya sudah tahu betul mengenai keindahan Bali yang kerap
dijadikan destinasi wisata domestik maupun manca negara. Bagi yang belum pernah
menginjakkan kakinya di pulau dewata ini mungkin sedikit penasaran, apa sih
menariknya? Itulah pertanyaan kami sebagai mahasiswa sebelum berkunjung ke
Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Oke, kita coba kupas satu-satu
kearifan lokal budaya Bali!
Kota
Seribu Pura dan Dewa
Satu hal yang akan kita
ketahui saat kali pertama berkunjung di Bali adalah, pura dimana-mana. Ya,
tidak aneh jika sepanjang jalan, kiri-kanan akan dipenuhi oleh jejeran pura
untuk beribadah. Bahkan hampir tiap pekarangan rumah penduduk yang beragama
Hindu terdapat sebuah pura. Ketika kita pergi ke suatu tempat di Bali pasti
terlihat bangunan pura juga. Bahkan beberapa pura yang ada di Bali sudah
terkenal hingga ke mancanegara, seperti pura Besakih, pura Ulun Danu Bedugul,
dan Pura Luhur Lempuyang. Pura ini yang menjadi daya tarik tersendiri bagi
wisatawan asing untuk berkunjung ke Bali.
Pulau Bali terkenal
dengan julukan sebagai Pulau Dewata atau The Island of Gods karena
kentalnya budaya Hindu, seperti banyaknya sesaji yang dipersembahkan untuk
dewata penjaga di berbagai tempat di Bali. Tidak mengherankan jika hampir
setiap hari kita akan jumpai penganut Hindu di Bali melakukan persembahan
kepada para dewa untuk menjaga kedamaian pulau Bali.
Jalinan
Persaudaraan yang Kuat
Dalam aktivitas sehari-hari, masyarakat Bali
lebih mengutamakan kebersamaan yang merupakan pengamalan ajaran Hindu “Tat Twam
Asi” yang berarti hidup rukun dan saling menghormati hak azasi seseorang.
Pengertian “Tat twam asi” bisa dikembangkan
menjadi “saya adalah kamu” dan “orang lain adalah juga saudara kita”. Dengan
demikian kehidupan sosial masyarakat Bali selalu menekankan nilai-nilai
kebersamaan, pemahaman makna kultural yang dilandasi konsep toleransi,
penghargaan, senasib seperjuangan, dan cinta kasih (paras paros sarpanaya).
Tradisi Keagamaan di Bali
Di Bali khususnya agama Hindu yang
melakukan persembahyangan dengan menggunakan Dupa. Hingga saat ini
bukti Kearifan Lokal Budaya Bali dipegang teguh pada khususnya tradisi
masyarakat saat melakukan keagamaan yaitu Dupa. Dupa sejenis pewangian
yang dapat dibakar. Kemudian asapnya mengeluarkan bau harum dengan tujuan
melambangkan sebuah perantara menghubungkan mereka dengan yang dipuja.
Sebuah Canang pun sangat penting digunakan saat
persembahyangan. Belum lama ini Canang banyak digunakan di hari raya galungan.
Banyak makna yang tersimpan dari Canang tersebut yang terbagi dari beberapa
bagian yaitu:
Alas berupa Ceper menyimbolkan Ardha Candra.
alas yang disebut tamas kecil ialah simbol windhu.
Kemudian Beras /Wija yang melambangkan benih
yang mengartikan awal dari kehidupan.
Porosan/Peporosan merupakan terbuat dari daun sirih, kapur, dan jambe
(gambir). Yang mempunyai makna umat manusia harus memiliki hati penuh cinta.
Dan welas asih serta rasa syukur yang mendalam pada sang yang dipuja.
Jajan, Tebu, dan Pisang yang memaknai kekuatan
dalam kehidupan di alam semesta. Sampian Uras atau Duras merupakan rangkaian
janur yang dibentuk bundar dengan makna yang menyertai setiap kehidupan umat
manusia.
Bunga yang diletakkan melambangkan kedamaian serta ketulusan hati.
Upacara Keagamaan yang Hampir
Setiap Hari
Tidak salah menjuluki Bali sebagai Pulau
Dewata, karena hampir setiap hari masyarakat Hindunya menyelenggarakan ritual
suci keagamaan. Kalian akan sering menemui wanita-wanita Bali
membawa sesajen di atas kepalanya, mendengarkan kidung-kidung suci dari
sejumlah pura di sekitar, dan bahkan melihat canang (sesajen) menghiasi depan
rumah mereka.
Kebetulan saat kami
berkunjung, bertepatan dengan hari raya Nyepi. Hanya di Bali, seluruh aktivitas
berhenti total untuk satu hari demi memperingati hari raya Nyepi. Umat
Hindu dilarang untuk bekerja, pantang untuk berpergian
maupun bersenang-senang, dan dilarang menyalakan api dan lampu. Alhasil
jalanan pun sepi saat Nyepi. Kamu dapat menikmati udara segar tanpa
polusi dan langit malam berkelap bintang hanya di hari Nyepi.
Keramahan yang Memikat Wisatawan
Masyarakat Bali yang sadar pariwisata tahu
benar bahwa keramahan khas Indonesia adalah membuat banyak wisatawan asing
ingin datang ke sini. Selain itu, budaya
Bali yang senantiasa mengajarkan keramah tamahan sudah sangat melekat. Maka
tidak mengherankan bila kamu dapat dengan mudah menemukan senyum masyarakat
lokal saat berlibur di sana. Sapaan hangat dan senyum tulus inilah yang membuat
orang rasanya selalu betah saat berada di Pulau Dewata.
Jika
kita berjalan-jalan di Bali maka jangan heran bila di sepanjang jalan akan
selalu ada orang yang menyapa dengan ramah. Ini menjadi kelebihan yang
sepertinya belum dimiliki oleh daerah lainnya. Pariwisata seolah telah menyatu
dengan darah masyarakat Bali, sehingga mereka tak akan ragu memberikan
pelayanan terbaik yang dimiliki.
Misteri masyarakat bali menyambut tamu dengan nuansa asri dan indah dengan adanya kabut-kabut. KEINDAHAN SELEPAS HUJAN
Peran Masyarakat dan Alam yang menyatu usai hujan,
munculnya nuansa kehidupan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar