Senin, 15 Oktober 2018

BUDAYA BALI


S
iapa yang tak mengenal Bali? Bahkan seluruh dunia rasanya sudah tahu betul mengenai keindahan Bali yang kerap dijadikan destinasi wisata domestik maupun manca negara. Bagi yang belum pernah menginjakkan kakinya di pulau dewata ini mungkin sedikit penasaran, apa sih menariknya? Itulah pertanyaan kami sebagai mahasiswa sebelum berkunjung ke Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Oke, kita coba kupas satu-satu kearifan lokal budaya Bali!

Kota Seribu Pura dan Dewa
Satu hal yang akan kita ketahui saat kali pertama berkunjung di Bali adalah, pura dimana-mana. Ya, tidak aneh jika sepanjang jalan, kiri-kanan akan dipenuhi oleh jejeran pura untuk beribadah. Bahkan hampir tiap pekarangan rumah penduduk yang beragama Hindu terdapat sebuah pura. Ketika kita pergi ke suatu tempat di Bali pasti terlihat bangunan pura juga. Bahkan beberapa pura yang ada di Bali sudah terkenal hingga ke mancanegara, seperti pura Besakih, pura Ulun Danu Bedugul, dan Pura Luhur Lempuyang. Pura ini yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing untuk berkunjung ke Bali.
Pulau Bali terkenal dengan julukan sebagai Pulau Dewata atau The Island of Gods karena kentalnya budaya Hindu, seperti banyaknya sesaji yang dipersembahkan untuk dewata penjaga di berbagai tempat di Bali. Tidak mengherankan jika hampir setiap hari kita akan jumpai penganut Hindu di Bali melakukan persembahan kepada para dewa untuk menjaga kedamaian pulau Bali.

Jalinan Persaudaraan yang Kuat
Dalam aktivitas sehari-hari, masyarakat Bali lebih mengutamakan kebersamaan yang merupakan pengamalan ajaran Hindu “Tat Twam Asi” yang berarti hidup rukun dan saling menghormati hak azasi seseorang.
Pengertian “Tat twam asi” bisa dikembangkan menjadi “saya adalah kamu” dan “orang lain adalah juga saudara kita”. Dengan demikian kehidupan sosial masyarakat Bali selalu menekankan nilai-nilai kebersamaan, pemahaman makna kultural yang dilandasi konsep toleransi, penghargaan, senasib seperjuangan, dan cinta kasih (paras paros sarpanaya).

Tradisi Keagamaan di Bali
Di Bali khususnya agama Hindu yang melakukan persembahyangan dengan menggunakan Dupa. Hingga saat ini bukti Kearifan Lokal Budaya Bali dipegang teguh pada khususnya tradisi masyarakat saat melakukan keagamaan yaitu Dupa. Dupa sejenis pewangian yang dapat dibakar. Kemudian asapnya mengeluarkan bau harum dengan tujuan melambangkan sebuah perantara menghubungkan mereka dengan yang dipuja.
Sebuah Canang pun sangat penting digunakan saat persembahyangan. Belum lama ini Canang banyak digunakan di hari raya galungan. Banyak makna yang tersimpan dari Canang tersebut yang terbagi dari beberapa bagian yaitu:
Alas berupa Ceper menyimbolkan Ardha Candra. alas yang disebut tamas kecil ialah simbol windhu.
Kemudian Beras /Wija yang melambangkan benih yang mengartikan awal dari kehidupan.
Porosan/Peporosan merupakan terbuat dari daun sirih, kapur, dan jambe (gambir). Yang mempunyai makna umat manusia harus memiliki hati penuh cinta. Dan welas asih serta rasa syukur yang mendalam pada sang yang dipuja.
Jajan, Tebu, dan Pisang yang memaknai kekuatan dalam kehidupan di alam semesta. Sampian Uras atau Duras merupakan rangkaian janur yang dibentuk bundar dengan makna yang menyertai setiap kehidupan umat manusia.
Bunga yang diletakkan melambangkan kedamaian serta ketulusan hati.

Upacara Keagamaan yang Hampir Setiap Hari
Tidak salah menjuluki Bali sebagai Pulau Dewata, karena hampir setiap hari masyarakat Hindunya menyelenggarakan ritual suci keagamaan. Kalian akan sering menemui wanita-wanita Bali membawa sesajen di atas kepalanya, mendengarkan kidung-kidung suci dari sejumlah pura di sekitar, dan bahkan melihat canang (sesajen) menghiasi depan rumah mereka.
            Kebetulan saat kami berkunjung, bertepatan dengan hari raya Nyepi. Hanya di Bali, seluruh aktivitas berhenti total untuk satu hari demi memperingati hari raya Nyepi. Umat Hindu dilarang untuk bekerja, pantang untuk berpergian maupun bersenang-senang, dan dilarang menyalakan api dan lampu. Alhasil jalanan pun sepi saat Nyepi. Kamu dapat menikmati udara segar tanpa polusi dan langit malam berkelap bintang hanya di hari Nyepi.

Keramahan yang Memikat Wisatawan
Masyarakat Bali yang sadar pariwisata tahu benar bahwa keramahan khas Indonesia adalah membuat banyak wisatawan asing ingin datang ke sini.  Selain itu, budaya Bali yang senantiasa mengajarkan keramah tamahan sudah sangat melekat. Maka tidak mengherankan bila kamu dapat dengan mudah menemukan senyum masyarakat lokal saat berlibur di sana. Sapaan hangat dan senyum tulus inilah yang membuat orang rasanya selalu betah saat berada di Pulau Dewata.
Jika kita berjalan-jalan di Bali maka jangan heran bila di sepanjang jalan akan selalu ada orang yang menyapa dengan ramah. Ini menjadi kelebihan yang sepertinya belum dimiliki oleh daerah lainnya. Pariwisata seolah telah menyatu dengan darah masyarakat Bali, sehingga mereka tak akan ragu memberikan pelayanan terbaik yang dimiliki.



Misteri masyarakat bali menyambut tamu dengan nuansa asri dan indah dengan adanya kabut-kabut. KEINDAHAN SELEPAS HUJAN



Peran Masyarakat dan Alam yang menyatu usai hujan, munculnya nuansa kehidupan.






 Alhasil selesai pkl lintas budaya di Bali sampai ketemu lagi di Bali tpi versi lain ya,,,,

Tidak ada komentar: